Jumat, 26 Februari 2016

Lebih Baik Menulis Puisi




Lebih baik menulis puisi,
setidaknya puisi bukan polusi
yang harus dikurangi
Dua ratus atau dua ribu tak perlu,
cuma-cuma kuberi padamu

Lebih enak menulis sajak,
karena sajak adalah cinta
untuk laki-laki atau wanita
tanpa pernah dicap hina
Tak dituduh menyimpang,
lebih rendah dari binatang

Lebih aman menulis puisi,
karena puisi bukan kompetisi
yang harus ditebus dengan nilai tinggi
Anak bangsa didukung karena nasionalis
namun dicaci sebab kurang ekonomis

Lebih asik menulis lirik,
sebuah lirik tentang nusantara,
Ketika sang fajar yang tenang membentang,
dituduh musrik walau jagung belum matang

Di negeri yang penuh kontroversi ini,
aku lebih baik menulis puisi

.....
Kuta, 26022016

Selasa, 29 Desember 2015

Prosa: Mural Dekat Lampu Lalu Lintas


(image from Google)



     Mural coretan rasa di tembok dekat lampu lalu lintas, saksi bisu pengaruh kemajuan pesat teknologi negeri, yang kuat akan bertahan menuju garis akhir hayat dan yang lemah tertinggal di garis awal lahir, sampai hembusan nafasnya yang terakhir.

    Seorang ibu renta menggendong buah hatinya, satu dari sekian korban pijakan jaman yang melangkah cepat, hanya mampu ulurkan tangan tuanya, di setiap pengendara yang berhenti sejenak, sepersekian menit mengoleksi koin dari mata-mata yang kebetulan tersentuh iba, selalu begitu dan sama seperti itu di setiap waktu, di benaknya hanya satu, mengais sebutir nasi untuk mengisi perut, demi keluarga yang ia kasihi.


     Mural coretan asa di tembok kumal dekat lampu lalu lintas jalan raya, tak pernah bicara bahagia hanya lara yang disaksikannya, debu globalisasi melekat di cat yang selalu terbasah air mata, tertutup sudah pesan singkat yang awalnya ia banggakan, tentang kesejahteraan untuk semua kalangan, mengenai harapan indah bagi negeri yang katanya berdiri dengan hati nurani.


     Anak kecil bekerja mainkan kerincingnya, buah tangan susunan bekas tutup botol air bersoda, yang ia bisa cuma nyanyikan sumbang do re mi fa sol la si do, jauh beda dengan penyanyi kelas atas di kotanya, tapi yang ia inginkan sedikit uang bukannya penghargaan platinum, asal cukup untuk sebungkus nasi guna lewati laparnya hari, mengenai gaya busana ataupun kecanggihan alat komunikasi, ia tak sedikitpun lukiskan peduli.


     Mural coretan masa, di tembok dekat lampu lalu lintas negeri yang berbudaya, hanya menjadi bahan diskusi di meja manusia-manusia penguasa, tak pernah mampu menyentuh nurani mereka, dan pada akhirnya, hanya ditindaklanjuti dengan penghapusan berdalih ketertiban, topeng sterilisasi untuk ibu renta peminta-minta, kostum rehabilitasi buat anak kecil penyanyi jalanan, dan cat netralisasi bagi mural idealisme tangan peduli sang seniman jaman.





Kamis, 24 Desember 2015

Puisi: Rumah Bukan Rumah



Sayang, aku tak buta
sering pulang malam bukan berarti tak cinta

Dinding-dinding mulai meretak tak mampu menahan
gemertak maki tanpa basa-basi terhunus menikam

Aku memang tak sempurna
belum mampu berimu apa-apa

Atap dan lantai kini kian merangas dan berleburan
tak sanggup mendengar bingar murka gaduh berhamburan

Rumah ini bukan rumah,
terlalu asing untukku pulang dan merebah
Rumah ini bukan rumah,
andai ku bosan mungkin nanti kurenovasi,
gunakan tulang belulangmu sebagai pondasi

Rabu, 23 Desember 2015

Teaser Buku Puisi: Delusi





Puisi: Tak Ada Bahu Untuk Serigala Menangis



Saat penuh purnama pudar,
mengkalut nyali mengkusut buas
hilang taring merontok rambut
telanjang bulat di atas karam gundukan makam

Ku urungkan hati ini meringis tragis,
sebab tak ada bahu untuk serigala menangis

Senin, 27 Mei 2013

Review: Kepulangan Kelima

Judul Buku: Kepulangan Kelima
Oleh: Irwan Bajang


Om Swastiastu,

Suatu hari, saat saya pulang dari bekerja, saya menemukan sebuah paket di atas meja. Setelah dibuka ternyata benar, isinya adalah sebuah buku, sebuah buku yang sudah saya tunggu-tunggu, yang saya pesan beberapa hari sebelumnya, buku kumpulan puisi dari Mas Irwan Bajang yang berjudul "Kepulangan Kelima", buku yang wah dengan tiga perwajahan, yaitu puisi, ilustrasi dan CD album musikalisasi. Mas Irwan Bajang adalah seorang penulis muda dari Lombok yang saya kenal di dunia maya, cuma sekali saya pernah berjumpa di dunia nyata, pada saat beliau berkunjung ke Bali.

Tak sabar rasanya ingin segera membaca buku tersebut, tetapi saya harus ganti baju, mandi dan makan malam terlebih dahulu. Setelah selesai makan dan usai menyeduh secangkir kopi, sayapun memulai membaca buku tersebut.

Dimulai dari puisi pertama yang berjudul "Kepulangan Kelima".
Setelah menyelami bait per bait, baris per baris, saya mencium kekentalan aroma adat istiadat kampung halaman penulis berpadu dengan kegetiran cinta. Kebetulan saya juga punya teman dari Lombok yang sering bercerita tentang adat istiadat kampungnya, persis seperti dalam puisi tersebut,

kewajiban untuk merantau;
"tapi rantau, tak ada lelaki satu pun di desa kita yang bisa menolak rantau"

dan keharusan "menculik" sang wanita terlebih dahulu sebelum menikahinya;
"sebelum akhirnya, gerombolanku gagal menculikmu sebagai istriku"

Kegetiran cinta bersumber pada sebuah nama, yaitu Aria, nama yang diposisikan sangat spesial di buku ini, dibuat selalu hidup dalam kenangan oleh sang penulis di samping kerinduan terhadap kampung halamannya.

Kemudian saya lanjut membaca puisi berikutnya dan berikutnya lagi, sampai-sampai saking asiknya saya membaca, kopi tak sempat diminum dan dibuat lupa menyalakan rokok, ternyata dengan membaca buku ini sedikit menyehatkan, hehehe...

Kembali ke isi buku, saya tidak akan membahas semua puisi di dalamnya, bila ingin tahu lebih banyak, saya sarankan untuk memesan bagi yang belum memilikinya. Saya cuma bisa bilang, buku ini Lombok banget! Ada istilah "Sempengot" di puisi "Bocah Pencuri Buah", ada kisah di Gunung Rinjani "Rinjani: Perawan Bersungai Susu, Juga Bertelaga Segara", Pantai Senggigi dalam puisi "Rindu yang Meranggas" dan puisi-puisi lainnya yang tak kalah khasnya dengan beberapa puisi yang saya sebutkan tadi. Cinta, rindu, khayal dan mimpi, buku ini mampu menyentuh semua aspek tersebut.

Dari semua puisi yang saya baca, entah kenapa saya berpikir penulis tidak benar-benar pulang ke kampung halamannya, saya merasa kepulangan kelima itu belum terjadi, melainkan hanya "Kepul-angan" sang penulis berdasar dari kepulangan-kepulangan sebelumnya, ini salah satu keunikan yang saya dapat dari buku ini.

Satu catatan dari saya: andai saja buku ini memiliki alur yang berurutan dari puisi pertama sampai puisi terakhir, misalnya berkisah dari masa kecil penulis sampai ke dewasa (saat ini), buku ini akan menjadi sebuah masterpiece of life story. Tapi terlepas dari itu, saya akui buku "Kepulangan Kelima" ini sangat mengagumkan.

Mengenai ilustrasi yang dikerjakan oleh Mas Oktora Guna Nugraha, tak ada kata lain, selain jempol untuk interpretasinya terhadap puisi yang diguratkan ke dalam seni ilustrasi dan saya juga selalu kagum dengan orang yang pandai menggambar atau melukis.

Mengenai CD album "Kepulangan Kelima" yang digarap oleh Mas Irwan Bajang dan Sanggar Ari KPIN, saya tak bisa berkata apa-apa, selain berteriak "Keren!". Suara Mas Ari KPIN sangat mirip dengan suara idola saya Iwan Fals, mendengar CD ini, serasa mendengarkan album barunya Iwan Fals yang berduet dengan Irwan Bajang. Track favorit saya dalam album ini adalah "Mari Berjabat Tangan dan Berbaikan Lagi, Tuhan".

Last but not least, sebagai penutup, saya cuma mau bilang bahwa saya yakin buku ini dapat menyentuh semua kalangan pencinta seni, baik seni tulisan, visual maupun audio, sangat rugi jika belum memiliki buku ini, bagi yang belum segeralah memesan di sini, dan buku ini juga dibandrol sangat murah, cuma Rp 45.000,-, murah tapi tidak murahan, saya jamin.

Sekian review saya yang sangat sederhana untuk sebuah buku yang luar biasa.

Om Santi, Santi, Santi Om

Kamis, 28 Juli 2011

Prosa: Hanya Dengan Inisial Pasti Hapal Ini Semua di Luar Akal

          Kita mulai dari agen GT 008. Dia gemar mengoleksi wig sebagai kamuflase. Entah dia itu agen CIA, KGB atau BIN. Atau mungkin awalnya agen minyak oplosan yang beruntung pantatnya selalu basah duduk di dinas pemerintahan dengan slogan “hari ini ga pake malak? apa kata dunia?” Dia juga mengukir prestasi gemilang dari ruang berterali yang remang. Sebagai pemegang rekor trik melepaskan diri terhebat sepanjang masa yang dicatat museum rekor penjara kita. Mungkin dia seorang Ninja, lihai berpindah tempat dengan meledakkan bom asap. Dari Nusa Dua sampai Malaysia, atau dia hanya agen biasa dengan informasi luar biasa yang hanya bisa dibungkam dengan hura-hura walau berstatus narapidana.

          Lanjut ke MD. Dia mungkin dulunya seorang stripper di klab malam yang biasa disawer di belahan dada. Sampai dia dipelihara pejabat kaya dan duduk nyaman diatas paha salah satu bank swasta. Kebiasaan buruk memang susah dihilangkan. Bahkan saat dia sudah menerima upah yang mungkin cukup untuk menghidupi seratus kepala, tetap juga dia butuh saweran hingga payudaranya semakin mengudara di dunia nyata maupun maya. Sampai akhirnya dia kena karmanya, sesuatu yang dibesarkan dengan hal yang buruk pasti punya efek samping yang buruk pula. Tapi lagi-lagi, pasal 34 dipelesetkan menjadi “payudara diatas ukuran minim dan dimiliki orang tenar dipelihara oleh negara”.

          Mohon maaf dengan bahasa saya, bisa kita lanjutkan? Mari kita sekarang tengok si NH. Bapak yang satu ini akhirnya mundur juga. Setelah sekian lama berkelana di dunia perbola sepakan dengan rekan-rekan setali tiga bahkan setriliun uang. Itu semua uang asli bukan uang monopoli. Bedanya uang asli adalah hasil memonopoli kemudian raib, sedangkan uang monopoli, setelah habis bermain, uangnya pasti tetap dimasukkan ke dalam laci. Lihat saja sekarang saldo rekening organisasi tertinggi bola yang mengagungkan slogan “Garuda didadaku” kini tersisa, oh…saya koreksi, kini tak bersisa sedikitpun. Lengkap dengan berkas-berkas pentingnya yang mungkin sudah kawin lari dengan uangnya. Alhasil pengurus baru pusing tujuh puluh keliling Stadion Utama Gelora Bung Karno dibuatnya.

          Nah, yang terbaru, terkini, teraktual dan ter-ter yang lainnya, adalah MN, si pemegang uang partai pemenang. Saya yakin Singapura tak berdusta, MN memang tak ada di sana. Terus ada di mana? Hmmm…saya sarankan anda cek di kolong tempat tidur atau kolong meja anda, mungkin dia ada di sana. Biasanya kalau anjing saya hilang, saya selalu melakukannya. Pasti ketemu, kecuali disembunyikan oleh kerabat dekat atau sahabat anda yang bernaung dibawah satu payung biru besar bersablon “Lantunkan!” Lewat media dia bernyanyi, tentang atasan-atasannya yang berkoalisi mengkambing congekkannya, diiringi Jingle Sari Roti asli produk dalam negeri. “Saya yakin itu ringtone telepon genggam” saya lupa, ini pernyataan siapa. Kalau tidak salah dari seseorang yang menyebut dirinya pakar dan selalu sibuk mencari ketenaran. Selalu muncul saat heboh video dan gambar-gambar mesum. Mungkin kini mengira dirinya ahli nujum.

          Entahlah dengan anda semua, tapi saya selalu miris dengan gaji saya sebagai pegawai rendahan selalu dipotong tiap bulan, namun jalanan semakin hari semakin berlubang. Entah apa pendapat anda, tapi saya selalu khawatir dengan uang saya yang ada di bank walau tak seberapa. Sangat tegang saksikan timnas kesayangan berjuang tapi untung saja kemarin menang, hahaha… Terkadang kesal juga saat tiba-tiba disuruh minggir di jalan raya, sudah dipinggir tapi masih tetap disuruh minggir, minggir kemana lagi bapak-bapak yang terhormat? Minggir ke Hongkong?

          Entahlah, saya lelah, setiap lima tahun sekali saya selalu salah. Mungkin lima tahun lagi kalau saya masih hidup, saya akan menyerah dan  memilih untuk tidak memilih.